your korean bias

Archive for the ‘Fan Fiction’ Category

Author : @lalapanda

Title : surprise

Leight : oneshot

Genre : romance

Cast : Eunhyuk (super junior)

Jung Aeryeong

Member Super Junior M

Author POV

“Yobseo.”

“Yobseo, Oppa. Naya.”

“Aaah, Aeryeong-ssi. Waeyo?”

“Oppa, boleh aku minta bantuanmu?”

“Nae? Mwoya?”

“Aku ingin memberikan kejutan untuk dia.”

“Kejuatan? Waw. How? Haeba haeba.”

“Besok aku akan pergi ke sana. Mau kah Oppa membantuku?”

“Tentu. Tentu aku akan membantu kamu. Lalu apa yang bisa aku bantu?”

“Ngg, aku mau tau kegiatan kalian tanggal 3. Rencananya sih aku mau menyusup ke kamarnya dia. Dan saat jam 12 berdentang, aku akan memberikan kejutan itu.”

“Begitu? Kalau begitu kamu harus ada di hotel yang sama dengan kami.”

“Karena itu aku minta bantuanmu. Aku tidak tahu daerah sana. Aku juga tidak bisa bahasa Mandarin, Oppa.”

“Mmm, kalau gitu aku akan mengirimkan seseorang untuk menjemputmu di bandara nanti. Kalau aku bisa, aku akan menjemputmu. Otte?”

“Oke. Kamshahamnida, Oppa. Chongmalyo.”

“Sama-sama.”

Aeryeong menyudahi pembicaraannya dengan Siwon, member SJ-M. dia melanjutkan membuat cookies sebagai hadiah yang akan diberikan pada namjachingunya. Namjachingu yang sudah lama tidak ia lihat. Senyuman senang dan bahagia terus saja mengembang di wajahnya yang mungil.

“Yobseo,” Aeryeong mengangkat telepon.

“Ryeong-ah. Jalan yuk!”

“Onjae?”

“Chigeum.”

“Mianhae, Jina-yah. Aku tidak bisa. Aku sedang membantu Omma.”

“Aaa, keurae? Kalau besok?”

“Mian. Besok aku sudah ada janji dengan sunbaenim ku. Mianhae.”

“Kamu sibuk sekali, Ryeong-ah. Ya sudahlah kalau begitu. Sudah ya.”

“Mian.”

“Kwenchana.”

Tidak ada yang mengetahui hubungan Aeryeong dengan Eunhyuk. Tidak ada satupun yang tahu. Akan ada yang terjadi kalau hal itu sampai terjadi. Apa yang akan dilakukan jewels jika mengetahui Oppa mereka sudah ada yang punya? Karena itu, mereka menutupi hubungan mereka selama 6 bulan ini.

Aeryeong sampai di Beijing. Dia mencari seseorang yang akan menjemputnya. Tapi dia sama sekali belum melihat sesosok pria yang akan menjemputnya. Siwon tidak bsa menjemputnya lantaran kegiatannya hari ini yang padat.

“Oppa.”

“Nae, Aeryeong-ssi.”

“Oppa, apa orang yang akan menjemput aku sudah datang?”

“Seharusnya sudah. Dia sudah berangkat ke bandara sejak tadi. Kamu berada di mana sekarang?”

“Aku sedang di ruang tunggu kedatangan.”

“Aku coba hubungi dia. Kamu jangan kemana-mana, oke.”

“Nae. Mianhae aku sudah banyak menyusahkan kamu, Oppa.”

“Kwenchana.”

“Mian.”

Aeryeong POV

Aku smsan sama namjachingu ku. Tentu saja dia tidak tahu kalau aku sudah ada di kota yang sama dengannya. Aku juga berbohong tentang keberadaanku sekarang. Dia memberitahuku tentang kegiatannya yang padat hari ini. Untunglah mereka sudah selesai tengah malam nanti.

“Aeryeong-ssi?” seorang pria lumayan tinggi menghampiriku.

“Nae?”

“Saya Xio Ji. Siwon-ssi meminta saya untuk menjemput anda.”

“Aah. Nae.”

“Mau berangkat sekarang?”

“Nae. Kamshahamnida, Xio ji-ssi.”

“Anio.”

“Bahasa Korea kamu lancar sekali.”

“Saya pernah tinggal di Korea beberapa tahun. Kuliah di sana. Bareng sama Siwon.”

“Oooohh. Jadi kalian udah kenal lama.”

“Ya begitulah.”

Kami keluar dari bandara. Selama di jalan, Xio Ji memberitahuku tentang tempat-tempat yang kami lewati. Ramah sekali. Dia juga memberithahuku rute untuk ke tempat dimana Super Junior M oppadeul berada sekarang. Tapi tidak mungkin aku ke sana. Wala sebenarnya ingin sekali ke sana. Secepatnya bertemu dengan Hyukjae Oppa.

“Kita sampai,” kata Xio Ji. Kami turun mobil hitamnya. Dia memberikanku kunci kamar yang sudah di pesan oleh Siwon Oppa. Tentu dengan uang yang transfer padanya. Aku tidak mungkin menyusahkan mereka di sini. Dia mengantarku sampai ke depan kamar sampai aku yakin kalau aku akan baik-baik saja seorang diri di sini. Menunggu mereka kembali dari rangkaian acara mereka.

Sudah waktunya makan siang bukan di sana? Apa kamu sudah makan?

Aku mengirimkan sms. Tapi dia tidak membalas smsku. Mungkin dia sedang sibuk. Ya sudahlah. Aku juga harus makan siang. Setelah itu baru menyiapkan semua kejutan untuknya. Untung sebelum Xio Ji-ssi pergi tadi aku meminta bantuannya untuk memesankan makanan ke kamar.

Author POV

Di lokasi syuting sebuah acara musik, member SJ-M menyudahinya. Tapi setelah ini mereka masih harus manggung lagi. Jadwal padat untuk promosi album kedua mereka. Belum lagi Siwon dan Donghae yang juga main film.

Eunhyuk memeriksa hpnya yang sendari tadi di pegang oleh managernya. Ada pesan masuk ternyata. Sejak tadi siang dari “dalgi”.

Sudah waktu makan siang bukan di sana? Apa kamu sudah makan?

Dengan segara Eunhyuk membalas pesan itu.

Belum L. Aku rindu masakan buatan kamu. Berharap kamu ada di sini membuatkan aku makanan paling enak di dunia 😉

Send.

“Hyukie, kaja pamokja,” Dongahe merangkul Euhyuk setelah membersihan make up dan mengganti baju mereka.

“Nae. Kajaaaaaaa.”

Selama makan sing terlihat sekali Eunhyuk yang uring-uringan. Walau terlihat senang, tapi seperti ada yang dia tutupi.

“Yobseo?” Siwon menerima panggilan telefon.

“Oppa. Kalau kamu bersama dengannya, jangan sebut namaku.”

“Ah, Xio Ji. Waegeureyo?”

“Kamu sedang bersamanya?”

“Nae. Kami sedang makan siang.”

“Ngg, apa dia makan banyak?”

“Tidak seperti biasanya.”

“Sincha yo?”

“Waeyo?”

“Aniya. Dari tadi dia sms aku. Tapi aku tidak membalas satu pun smsnya. Dia bilang dia lagi kangen masakanku. Terus dia bercerita tentang kegiatannya setelah ini. Juga tentang ulang tahunnya yang besok juga akan penuh dengan jadwal kerja. Tapi aku tidak membalasnya. Hanbondo aniya.”

“Kamu tidak seharusnya begitu.”

“Arayo, Oppa. Keundae, setiap membacanya semakin aku tidak kuat untuk menahan diri. Aku ingin memberitahunya kalau aku ada di sini. Aku ingin bertemu dengannya. Secepatnya. Aku tidak membaca lagi sms-smsnya.”

“Anio. Kamu tidak boleh seperti itu. Bagaimana dengan rencanamu?”

“Karena ituah aku tidak membalas smsnya. Oppa, tolong hibur dia kalau dia sedang dalam keadaan tidak baik. Aku berharap waktu cepat berlalu.”

“Nae. Arayo.”

“Chongmal Kamsahaguyo, Oppa.”

Siwon menyudahi pembicaraannya dengan “Xio Ji”. Melihat Eunhyuk yang biasanya bisa makan 8 porsi sekali makan, kali ini porsi makannya sama dengan dirinya.

“Hyeong. Waeyo?”

“Anio. Kwenchana. Henry-yah, tolong tuangkan aku minum,” pintanya kepada si maknae.

“Eunhyukkie, besok ulang tahun mu, kamu mau kado apa?” Tanya Sungmin.

“Hyeong, kamu mau membelikan apapun keinginanku?”

“Anything. Haeba.”

“Nggg, kalau gitu, aku ingin kamu, Donghae.”

“I’m yours, Eunhyukkie. Hahahahaha.”

Gelak tawa membahana di meja makan mereka. Kegilaan mereka berlanjut. 2 sahabat itu akan membuat seluruh ELF berteriak-teriak.

Aeryeong POV

Ahirnya selesai juga ngedekor kamau Eunhyuk Oppa. Berkat Siwon Oppa aku punya kunci kamar Eunhyuk Oppa. Hem? Sudah jam berapa sekarang? Astaga, sudah jam 10 rupanya. Ternyata focus sama kerjaan gini bikin gak sadar waktu. Dan pantas aku lapar.

“Aeryeong-ssi. Naya. Donghae,” kata Donghae Oppa menelefonku yang duduk di kasur Eunhyuk Oppa yang bersih dan kinclong. Cowok yang satu itu emang suka banget bersih. Jadi kamarnya pasti akan selalu dalam keadaan bersih tanpa debu.

“Ah, Oppa.”

“Oddiesoyo?”

“Nggg.”

“Kwenchana, Siwon sudah memberitahuku. Kami semua tahu. Kecuali Eunhyuk.”

“Sepertinya ada yang menyebut namaku,” aku mendengar suara Eunhyuk Oppa dari sebrang sana.

“Ya! Kamu terlalu ge-er, hyukie. Hahaha,” balas Donghae.

“Aku mendukung rencanamu. Semoga berhasil ya. Oh iya, kami masih di jalan. Mungkin sekitar 1 jam lagi kami baru sampai,” kata Donghae.

“1 jam lagi? Masih lama ya.”

“Hahaha. Sabar ya. Sampai nanti.”

“Nae. Kamshahamnida, Oppa.”

1 jam lagi? Masih lama ya.

Aku merebahkan badanku di kasur. Lelah sekali rasanya. Tapi aku harap dia akan suka dengan kejutan yang aku berikan. Dan perlahan mataku tertutup. Istirahat sebentar. Aku harus terlihat fresh saat bertemu denganya nanti.

Author POV

“Kamu kenapa, Hyeong?” Tanya Ryeowook.

“Kenapa handphonenya tidak diangkat?”

“Nuguseyo?”

“Aeryeong. Di Korea sudah pergantian hari. Apa dia sudah tidur secepat ini? Haaah, padahal aku berharap dia memberikan ucapan selamat ulang tahunku.”

“Hahaha. Ya! Mungkin dia sudah punya pengganti kamu. Hahaha,” ledek Zhoumi.

“Ya! Aish! Mana ada pria yang lebih baik dari aku?”

“Hahaha. Hyeong, kamu memang yang terbaik,” kata Henry membuat hyeongnya yang sati itu senang.

Eunhyuk terus mencoba untuk menelefon Aereyong. Sampai dia menyerah sendiri.

Mereka berdelapan sampai di hotel. Rasanya mereka lelah sekali untuk langsung merayakan ulang tahun Eunhyuk yang hanya menunggu hitungan menit. Ya, perjalanan mereka lebih lama karena mereka makan terlebih dahulu.

Sambil jalan menulusuri lorong hotel, Siwon menghubungi Aeryeong. Takut dia benar-benar tertidur karena terlalu lama menunggu Eunhyuk pulang.

“Ya. Kamu tadi tertidur?”

“Mianhae, Oppa. Aku tertidur tadi. Di sini nyaman sekali. Kalian ada dimana?”

“Kami sudah sampai. Sebentar lagi dia akan masuk kamar. Bersiaplah.”

“Ah, nae. Persiapanku sudah selesai beberapa waktu lalu.”

“Aeryeong-ssi, dia menanti ucapan pertama darimu.”

“Sincha?”

Eunhyuk yang jalan di depan merasa tadi Siwon yang sedang menelefon menyebut nama Aeryeong. Banyak pertanyaan yang berputar di otaknya.

Kenapa Aeryeong tidak mengangkat teleponku? Apa aku sudah berbuat salah padanya? Apa ada perkataanku yang menyakitinya hari ini? Siwon-ah, apa yang sudah kamu sembunyikan dariku? Dia pasti sudah bercerita sesuatu pada Siwon. Kalau tidak, Siwon tidak mungkin menelefonnya larut malam begini.

Dengan fikiran yang berkecamuk, Eunhyuk membuka pintu hotelnya. Tubuhnya yang sudah lelah bertambah lelah dengan munculnya fikiran-fikiran buruh tentang Aeryeong. Dia ingin segera istirahat dan menghubungi Aeryeong besok pagi.

Tapi saat dia menyalakan lampu, dan daaaaaar! Ledakan petasan kertas membuatnya melompat kebelakang. Wajahnya terlihat kaget dan kemudian mengembangkan senyum melihat seorang gadis dengan kue yang di susun di atas piring dengan angka 25 diantara kue-kue itu. Di sana juga ada tulisan dengan coklat rasa stroberry, SAENGIL CHUKHA HAMNIDA LEE HYUKJAE OPPA.

“Saengil chukha hamnida. Saengil chukha hamnida. Saranghaneun Eunhyuk Oppa. Saengil chukha hamnida.”

“Aeryeong-ah. Sejak kamu ada di sini?”

“Sejak tadi siang.”

“Kenapa kamu tidak memberitahuku?”

“Kalau aku memberitahu kamu, tidak akan jadi surprise. Tiup lilinnya. Palli palli,” kata Aeryeong semangat.

Eunhyuk meniup lilin dan mengambil satu potong kue yang ada di tumpukan atas.

“Enak sekali. Kamu yang membuat ini?”

“Tentu saja. Kamu suka?”

“Suka. Gomawo,” Eunhyuk mengusap kepala Aeryeong lembut. “Yaaaaa, kamu yang mendekor kamarku?”

“Nae. Oppa, ini hadiah dariku,” aeryeong menyerahkan satu kotak besar kepada Eunhyuk yang duduk di kasur.

“Ige mwoya?”

“Bukalah.”

Sebuah sepatu sneakers berwarna biru tua menjadi hadiah ulang tahun Eunhyuk yang ke 25 tahun. Dia memandang kembali yeojachingunya yang berdiri di depannya.

“Gomawo.”

“Cheonmaneyo.”

“Ah, nae, kamu mendekor kamarku, tapi bagaimana kamu mendapatkan kunci kamarku?”

“Engg, ano, itu. Aku meminta bantuan Siwon Oppa.”

“Jadi dia tahu kedatanganmu?”

“Nae, Oppa. Aku memberitahu rencanaku dan dia memberikan kunci kamarmu,” kata Aeryeong dengan wajah bersalah.

“Pantas saja. Dia menghubungimu kan barusan.”

“Ye.”

“Dan kalian terus berhubungan seharian ini?”

“Ye.”

“Tapi kenapa kamu tidak membalas smsku lagi? Kenapa kamu tidak mengangkat telefon ku tadi?”

“Mianhaeyo. Aku merasa sedih sekali membaca smsmu. Rasanya aku tidak tahan untuk segera bertemu denganmu. Makanya aku tidak membalasnya lagi. Aku tidak mau rencanaku gagal dan malah menemuimu di lokasi syuting. Dan tadi aku sempat tertidur. Makanya aku tidak mengangkat telefonmu, Oppa. Mianhaeyo.”

“Rencanamu itu membuatku berfikir yang tidak-tidak tentang dirimu. Mianhae. Aku fikir kamu sudah tidak suka padaku dan pindah kelain hati. Siwon telah menarik perhatianmu.”

“Ya! Manamungkin aku begitu!”

“Mian aku tidak percaya padaku. Ah, makasih ya kejutannya.”

“Besok kamu sibuk?”

“Ya. Besok aku masih harus promosi album kedua Super junior-M. waeyo?”

“Anio. Aku di sini hanya 3 hari. Setelah itu aku harus pulang ke Seoul. Kalau kamu ada waktu luang, aku ingin jalan-jalan bersamamu.”

“Mmm, gimana kalau besok kamu ikut aku ke lokasi? Kamu akan bosan kalau hanya di hotel.”

“Boleh?”

“Tentu saja. Dan ehem, kamu bermalam di sini.”

“Ya! Oppa! Kamu berfikiran yang tidak-tidak,” kata Aeryeong dengan wajahnya yang memerah karena malu.

“Hahahaha. Aku bercanda. Aku antar kamu ke kamarmu.”

Eunhyuk mengantar yeojachingunya ke kamar hotel yang ada di lantai yang sama dengan dirinya. Aeryeong membuka kunci pintu kamarnya. Menatap Eunhyuk yang masih berdiri di sampingnya.

“Kembalilah. Kamu harus istiarahat.”

“Have a nice dream,” kata Eunhyuk mengecup kilat pipi Aeryeong dan mendorongnya masuk kamar. Setelah itu dia kembali ke kamarnya dan beristirahat. Pekerjaannya besok masih menanti dan dia harus tetap tampil prima.

posted by: ping

Advertisements
Tags:

hari ini cuacanya sangat dingin, maklum saja sekarang sedang musim dingin, ditambah lagi sekarang aku sedang berada disebuah taman ~tempat aku melarikan diri dari eoma. dan disini yang bisa menghangatkanku hanya hoodie ini saja. aku merapatkan hoodieku untuk mengusir rasa dingin yang menerpaku, mungkin kalau sekarang aku berkaca aku bisa melihat kalau hidungku sudah memerah akibat kedinginan. memang, seharusnya aku berada dirumah dan menghangatkan diri di depan tungku perapian sambil menikmati coklat hangat. sebuah kemewahan yang tidak mungkin kudapati disini. hhh~ andai saja eoma tidak marah-marah pagi ini.

“annyeong.” sapa seseorang dari sebelahku. aku menengok dan mendapati seorang pria tinggi berdiri disebelahku sambil tersenyum padaku. dia memakai jaket yang kelihatan lebih hangat dibanding hoodieku, kepalanya tertutup oleh kupluk berwarna hitam yang senada dengan jaketnya, tangannya terlihat tersembunyi di dalam saku jaketnya. “boleh aku duduk disini?” tanyanya sambil menunjuk bangku sebelahku.

“ne..” jawabku singkat sambil bergeser agar menyisakan tempat yang lumayan besar untuknya agar bisa duduk.

“apa yang kau lakukan diluar sini?” tanya pria itu. aku meliriknya sekilas, dia cukup cerewet untuk tipe orang yang tidak ku kenal sama sekali. selain itu sebenarnya aku benar-benar sedang tidak mau diganggu, oleh karena itu aku hanya menjawab singkat.

aku menghela napas dan melihat ada uap yang keluar dari mulutku, lalu aku menjawab pertanyaannya, “mencari udara segar.” jawabku ringan.

“yah udara disini memang cukup segar, mengingat sekarang mungkin temperaturnya hampir mencapai minus 10 derajat.” aku bisa merasakan kalau dia sedang menyindirku. aku mengharapkan sebuah tungku perapian dan coklat panas, malah seorang pria cerewet yang kudapatkan, terima kasih atas nikmatMu ini Tuhan. “choneun Henry nimida.” pria itu tiba-tiba mengangkat tangannya dan mengulurkannya padaku.

aku tertawa, “bukankah ini terlalu cepat untuk berkenalan?” tanyaku.

“sepertinya iya.” ia menurunkan tangannya lalu berdiri, “kalau kau tidak mau berkenalan denganku, mungkin lain kali kita bisa berkenalan. annyeong.” ia melemparkan senyum padaku lalu pergi begitu saja.

sementara aku hanya bisa mendengus sambil menatap punggungnya yang semakin menjauh. “yakin banget kalo kita bisa ketemu lagi.” bisikku pelan, lebih pada diri sendiri.

***

“kemana saja kau?” cecar eoma saat aku baru saja pulang. aku baru saja memutuskan pulang saat hujan salju mulai turun. dengan cuek aku menatap eoma yang terlihat sangat marah, matanya terbuka sangat lebar, sepertinya bola matanya bisa saja terlempar keluar sewaktu-waktu.

“eoma berhentilah memarahi Hyurin.” seru Kangin oppa yang baru saja turun dari lantai 2.

“dia salah, kau tidak usah repot-repot membelanya.” eoma masih menatapku galak, dan aku masih terlihat cuek dibawah tatapannya itu.

eoma yang sekarang sedang bersamaku di Korea adalah eoma tiriku. eoma kandungku sudah meninggal, dan appa menikah dengan wanita berkebangsaan Korea, dan karena alasan itu juga aku dan appa pindah dari Indonesia ke Korea, nama Hyurin adalah nama hangulku. dan Kangin oppa adalah anak dari eoma tiriku, ya dia memang oppa tiriku. pada awalnya Kangin oppa tidak menyukaiku saat eoma dan appa belum menikah, tapi setelah mereka menikah aku melihat perubahan yang berarti pada diri Kangin oppa, pelan-pelan dia mulai berubah menyayangiku seperti menyayangi adik kandungnya sendiri. tapi seiring perubahan yang terjadi pada Kangin oppa, eoma juga mulai berubah. pada awalnya eoma menyayangiku, tapi setelah menikah dengan appa, eoma terlihat sangat membenciku bahkan terkadang suka menyiksaku.

aku menghela napas, “aku memang selalu salah kan dimata eoma.” kataku pelan, lalu memutuskan untuk pergi ke kamarku yang berada di lantai 2 tanpa melihat ke arah eoma lagi. saat aku sedang menaiki tangga tiba-tiba saja aku merasakan hentakan yang sangat keras di bagian kepala belakangku, dan rasa mual pelan-pelan menyergapku. aku mempercepat langkah menuju kamar agar aku bisa beristirahat dan mengusir rasa sakit itu.

sesaat kemudian aku mendengar Kangin oppa berdebat dengan eoma. “eoma berhentilah memarahi Hyurin. dulu kau menyayanginya bahkan sampai menyuruhku untuk menyayanginya juga, tapi kenapa sekarang kau berubah?” bentak Kangin oppa. sebenarnya aku tidak suka mendengar ini. kangin oppa adalah anak kesayangan eoam, selain karena Kangin oppa adalah anak kandung satu-satunya, Kangin oppa juga anak yang berprestasi.

“bisa tidak kau berhenti membelanya! biarkan saja eoma memarahinya, eoma tidak suka dengannya” eoma membentak Kangin oppa. ada sedikit perasaan sakit dihatiku mendengar eoma berkata seperti itu. tapi aku termasuk anak yang kuat jadi aku hanya menghela napas dan sama sekali tidak berniat untuk menangis. dan sekali lagi hentakan itu datang, aku memijit kepala belakangku untuk meringankan sakitnya. karena tidak kuat menahan sakitnya, aku memutuskan untuk pergi tidur, berharap setelah bangun sakitnya akan benar-benar hilang.

***

“kau mau kemana?” tanya appa saat melihatku keluar dari kamar dengan jeans dan jaket.

“jalan-jalan sebentar appa.” jawabku ringan, aku mengambil sebuah roti yang hendak dimakan Kangin oppa lalu bergegas pergi sebelum ia sempat mengeluarkan protes.

aku kembali ke taman tempat aku bertemu dengan Henry oppa, dan taman tempat aku melarikan diri jika bermasalah dengan eoma. aku kembali duduk di tempat biasa, dan kali ini tidak merasa kedinginan berkat berlapis-lapis baju yang kupakai ditambah jaket.

“lihat kan, kita bertemu lagi disini.” tiba-tiba aku mendengar suara Henry oppa, walaupun kami baru bertemu kemarin tapi entah kenapa aku bisa mengenal suaranya.

“yah.. aku tau.. tebakanmu sepertinya benar, apa yang kau lakukan disini?” tanyaku, dan beruntunglah dia, hari ini suasana hatiku tidak seburuk kemarin jadi aku bisa menanggapi perkataannya.

“tidak melakukan apa-apa.. hanya mencari udara segar.” dia seperti ingin menggodaku dengan cara mengembalikan kata-kataku kemarin.

aku tertawa pelan. “mencari udara segar..” kalimatku terputus oleh kata-kata Henry oppa.

“..mengingat sekarang mungkin temperaturnya hampir mencapai minus 10 derajat.” lanjut Henry oppa.

aku kembali tertawa, “sepertinya kita bisa menjadi teman yang baik. choneun Hyurin nimida.” aku mengangkat tangan dan mengulurkan pada Henry oppa.

ia menjabat tanganku dengan ramah, “dan apa aku harus memperkenalkan diri lagi?” tanya Henry oppa sambil tersenyum manis padaku.

“anya oppa..” kataku singkat. setelah berkenalan, aku dan Henry oppa mengobrol banyak, dan kami semakin dekat. aku bisa melihat Henry oppa adalah orang ramah yang senang bercanda, ia juga selalu tersenyum, membuat wajah tampannya terlihat semakin tampan dan manis.

***

setelah mengobrol lama dengan Henry oppa kami memutuskan untu pulang, dan Henry oppa mengantarku pulang dengan motornya, walaupun aku sudah bilang tidak usah karena rumahku dekat, tapi ia tetap memaksa dan pada akhirnya aku mengalah dan membiarkannya mengantarku pulang.

siang itusuasana rumah terlalu tentram bagiku, mungkin karena aku sudah sering mendengar omelan eoma aku jadi sedikit aneh kalau tidak mendengar omelannya. aku menemukan eoma sedang menonton tv sambil memakan camilan, pelan-pelan aku duduk di sebelahnya. “eoma..” kataku pelan.

“hmm..” jawab eoma lembut, hal yang sungguh tidak biasa. apa eoma salah minum obat pagi ini? tanyaku dalam hati.

aku menelan ludah dan kembali bicara, “Kangin oppa dimana?” tanyaku lagi.

eoma melirikku, dan aku memberanikan diri menatapnya. “kau ini adiknya tapi tidak tau apa yang sedang oppamu lakukan?” tanya eoma dengan nada menuduh sekaligus galak.

“mian eoma.” akhirnya aku menunduk karena ketakutan.

“eoma sedang menjalani training di SM Entertainment dan trainingnya mulai hari ini, kau sudah tau jawabannya kan, sekarang pergilah jangan menggangguku.” kata eoma galak dengan tatapan seperti singa yang akan melahap mangsanya. aku menurut lalu pergi ke kamarku, dengan sakit kepala yang kembali datang walaupun tidak separah kemarin.

***

keesokan harinya saat selesai mandi dan berpakaian sekolah dan memakai jaket aku berlari ke ruang makan, berharap menemukan Kangin oppa sedang sarapan disana. alih-alih aku malah menemukan Henry oppa sedang sarapan bersama eoma dan appa, dan sepertinya eoma sangat menyukai Henry oppa, terlihat dari gelak tawanya saat mendengar lelucon-lelucon bodoh Henry oppa. aku berjalan pelan menuju meja makan.

“apa yang kau lakukan disini?” tanyaku bingung pada Henry oppa. Henry oppa menatapku sambil tersenyum, sneyum yang kusukai.

“kau duduklah dulu, dan makan sarapanmu, baru kau menanyakan hal itu padanya saat kalian dalam perjalanan menuju sekolah, kau sudah hampir telat.” appa menunjuk jam tangannya, dan saat aku melihat jam dinding aku tau kalau appa benar, aku memang harus buru-buru.

“aku langsung berangkat saja, tidak ada waktu buat sarapan.” aku langsung berlari keluar rumah, dan aku mendengar Henry oppa pamit pada kedua orangtuaku.

“Biar aku mengantarmu.” Henry oppa menarik tanganku dan menyuruhku naik ke motornya, aku menurut karena kupikir naik motor akan lebih efektif dalam mempersingkat waktu. dan saat aku sudah naik ke motor, aku mengeluarkan handphone dari saku bajuku lalu mengirim sms pada Kangin oppa.

oppa kenapa kau tidak bilang padaku kalau kau harus trainee di SM?

itulah isi pesan singkatku pada Kangin oppa. cukup lama aku menunggu balasannya tapi ia tidak juga membalas smsku. aku menghela napas panjang, dan sepertinya Henry oppa menyadari helaan napasku, karena ia langsung bertanya.

“wae?” tanyanya lembut.

“anyo oppa..” kataku pelan. aku menunggu balasan smsnya beberapa saat, tapi ia tidak membalas smsku, akhirnya aku memasukkan kembali handphone ku ke saku bajuku.

***

sepulang sekolah aku kembali ke taman, aku membuka tasku dan mengambil novel yang sedari tadi memang kubawa. kira-kira sepuluh halaman sudah kubaca saat aku tiba-tiba merasa sakit kepala lagi, rasanya memang tidak sesakit saat pertama aku merasakannya, tapi sakitnya cukup membuatku mual dan ingin muntah.

“kau baik-baik saja?” tanya sebuah suara dari depanku.

“ne oppa.. aku baik-baik saja.” aku mendongak dan mendapati Henry oppa berdiri di depanku dengan tatapan khawatir. “wae?” tanyaku bingung, aku berusaha menepis rasa sakit dan mualnya.

“harusnya aku yang bertanya begitu, aku tadi menjemputmu tapi setelah lama aku menunggumu di sekolahmu dan kau tidak muncul-muncul, akhirnya aku memutuskan untuk pergi kesini.” Henry oppa menjelaskan setiap detailnya padaku. dan aku mengangguk lemah tanpa berniat menimpali ucapannya karena aku masih sibuk menepis rasa sakitnya. “kau mau pergi ke kedai minuman? aku kedinginan dan membutuhkan tempat yang lebih hangat daripada diluar sini.” lanjut Henry oppa. dan kembali aku hanya bisa mengangguk lemah.

di kedai minuman, Henry oppa memesankan dua coklat hangat untukku dan untuknya. selama menunggu pesanan kami datang, kami tidak mengobrol sama sekali, alasannya cukup jelas, yaitu karena aku masih merasakan sakitnya dan sekarang Henry oppa sedang membaca novelku yang sepertinya disukainya.

setelah minuman kami datang, Henry oppa langsung mengembalikan novelku dan aku menaruhnya ke dalam tasku. aku menatap coklat hangatku tanpa mengambilnya dan meminumnya, aku memikirkan Kangin oppa, sejak aku mengirim sms padanya, ia sama sekali tidak membalasnya sampai sekarang. tiba-tiba aku mendengar Henry oppa berdehem, lamunanku buyar dan aku tersentak kaget “kau memesan coklat hangat tapi malah membiarkannya sampai dingin.” entah itu teguran atau sindiran tapi aku hanya bisa menanggapinya dengan senyuman. “ada apa denganmu?” lanjutnya.

“tidak apa-apa.” aku menatap Henry oppa, pelan-pelan rasa sukaku padanya semakin besar, rasa suka yang bukan hanya suka pada senyumnya, tapi rasa suka yang lebih.

“kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Henry oppa dengan muka bingung yang lucu, aku menggeleng lalu meminum coklat panasku, aku mengernyit, coklat ini benar-benar sudah dingin.

“walaupun kita baru kenal, tapi cerita saja semua masalahmu padaku, siapa tahu aku bisa membantumu.” ada tatapan peduli di mata Henry oppa.

aku kembali meminum coklat dinginku lalu melempar senyum padanya. “tidak apa-apa oppa aku serius..” seruku sambil menghiburnya.

***

mian Hyurin, tadinya setelah sarapan aku mau bilang padamu, tapi kau malah tidak ikut sarapan dan entah pergi kemana. aku mungkin akan sulit dihubungi selama disini, tapi aku akan berusaha untuk tetap mengirim sms padamu.

itulah isi sms dari Kangin oppa yang baru dibalasnya saat aku baru bangun keesokan paginya. ada perasaan kesal dan marah yang tiba-tiba mengalir di dalam dadaku. walaupun Kangin oppa bukan oppa kandungku tapi aku sangat menyayanginya seperti oppaku sendiri. aku melempar handphoneku keatas bantal. memijit kepala belakangku yang kembali terasa sakit. aku mengingat-ingat berapa lama aku merasakan sakit ini. sudah 3 bulan aku tinggal di korea dan dua bulan sudah aku merasakan sakit ini.

dua bulan waktu yang cukup lama, tapi aku tidak menyadarinya, bahkan aku tetap tidak mengetahui kenapa penyakit ini selalu datang. tiba-tiba rasa sakit itu semakin parah, rasanya kepalaku mau pecah. aku duduk sambil memijit kepala belakangku dan menahan sakit. setelah sakitnya agak hilang, pelan-pelan aku turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahku dengan air dingin.

tapi ternyata air itu tidak berpengaruh apa-apa pada rasa sakit ini, aku lalu memutuskan untuk menyalakan shower dan membasuh seluruh kepalaku. alih-alih yang kurasakan malah rasa sakit yang bertambah parah. pandanganku mulai buram dan gelap, rasa sakit itu berdetam-detam di dalam kepalaku, dan sesaat setelah itu aku sudah tidak menyadari apa-apa lagi, semuanya gelap, aku pun tidak merasakan air yang ditumpahkan shower ku.

 

***

aku mendengar eoma menangis di sisiku, lalu aku mendengar appa berkata, “tidak ada gunanya kau menangis sekarang!! semua sudah terlambat, kalau ku tahu kau tidak pernah mengurusnya dan malah menyiksanya, aku tidak akan pernah menikah denganmu!!” bentak appa pada eoma, kemarahan appa seperti tidak terbendung lagi, aku bisa merasakan ia benar-benar marah pada eoma.

aku berusaha sekuat tenaga untuk membuka mata tapi rasa sakitnya menahannya, rasa itu seperti menyihir seluruh tubuhku sehingga aku tidak bisa melakukan apapun. Tuhan apa yang terjadi padaku kenapa aku tidak bisa menggerakkan tubuhku sama sekali? erangku dalam hati.

beberapa saat kemudian aku mendengar suara dari orang yang sangat kurindukan, suara Kangin oppa. “eoma, appa, sekarang bukan saatnya untuk bertengkar, kita harusnya berdoa agar Hyurin cepat sadar dan bisa melewati masa kritisnya.” kata-kata Kangin oppa membuatku tersentak.

masa kritis? memangnya aku kenapa? jamkanman.. apa yang kulakukan sebelum semua ini terjadi? aku ke kamar mandi lalu membasuh kepalaku dan.. aku berkata dalam hati berusaha mengingat semuanya tapi kepalaku sakit lagi, tiba-tiba aku tersadar inilah penyebab penyakitnya, semakin aku berusaha membuat otakku bekerja keras atau setiap aku berada dibawah tekanan, rasa sakit ini pasti datang dan semakin aku terus berusaha atau terus tertekan rasa sakit itu akan semakin parah.

ditengah-tengah suara tangisan eoma aku mendengar ointu berderit, lalu aku mendengar seseorang melangkah masuk. “siapa kau?” tanya Kangin oppa, nada suaranya agak tidak ramah.

“Kangin, dia Henry, teman baik Hyurin.” aku mendengar appa menjawab pertanyaan Kangin oppa.

“mianhae, aku tidak tau.” kata Kangin oppa yang sepertinya ditujukan pada Henry oppa, karena setelah itu aku mendengar Henry oppa menimpali kata-kata Kangin oppa.

“tidak apa-apa hyung, mianhae aku baru bisa menjenguk Hyurin sekarang.” aku mendengar suara Henry oppa tepat disebelah kiriku.

rasanya aku ingin membuka matalalu memeluk Kangin oppa dan mengatakan kalau aku merindukannya. aku juga ingin memeluk eoma dan berkata aku tidak ingin melihatnya menangis, tapi aku tau itu semua tidak mungkin kulakukan dengan keadaanku yang seperti ini.

“dia belum sadar juga paman?” tanya Henry oppa pada appa.

“eung.. sudah seminggu dia belum sadar.” jawab appa, aku mendengar ada nada sedih dalam nada suaranya. dan aku merasakan seseorang menyentuh tangan kiriku.

jamkanman.. tadi appa bilang apa? seminggu aku belum sadar? ya ampun sebenarnya ada apa denganku? erangku dalam hati.

“mian kalau aku boleh tau, Hyurin kenapa? kenapa dia bisa koma?” aku mendengar Henry oppa bicara lagi, Henry oppa seperti mendengar suara hatiku yang juga mempertanyakan soal keadaanku sekarang.

aku mendengar seseorang menghela napas, “dia kena kanker otak. stadium 4.” itu suara Kangin oppa, aku merasa eoma memelukku erat sambil menangis, tangisannya lebih kencang.

“kanker??” Henry oppa terdengar terkejut, “tapi bagaimana bisa? dia terlihat baik-baik saja sebelumnya?”

“ini salahku.. salahku yang selalu membuatnya tertekan. mian Hyurin.” eoma mengerang diatas tubuhku yang sama sekali tidak bisa kugerakkan.

“eoma sudah.” appa menenangkan eoma.

aku merasa seseorang yang sedaritadi memegang tangan kiriku, kini mengangkat tangan kiriku, “aku mohon sadarlah, dan sembuhlah.. paman memangnya dia tidak bisa di operasi?” itu suara Henry oppa, ternyata dia yang sedari tadi memegang tangan kiriku.

“andwae.. tubuhnya terlalu lemah, team dikter takut operasi hanya akan membuat tubuhnya semakin memburuk.” jawab appa sedih.

kini tubuhku benar-benar membeku, bukan karena kanker ini yang menahannya, tapi juga karena kengerian akibat penjelasan dari appa dan Kangin oppa mengenai kanker, operasi, dan segala macamnya. kenapa aku tidak menyadarinya, kenapa aku tidak merasakan penyakit ini sejak awal? aku benar-benar bodoh. aku berkata pada diri sendiri, dan kembali hanya bisa ku katakan dalam hati.

aku berusaha bangun, berusaha melawan rasa sakit ini, demi melihat orang-orang yang kusayangi berhenti mengkhawatirkanku, demi membuat eoma berhenti menangis. seperti yang kuduga, rasa sakit itu menyerangku lebih parah, bahkan semakin parah, tapi aku tidak peduli aku hanya ingin sadar dan meyakinkan mereka bahwa aku baik-baik saja, dan tiba-tiba semuanya terasa mustahil dan mengerikan.

aku menatap tubuhku sendiri, eoma menangis diatas tubuhku, Henry oppa keluar kamar perawatanku untuk memanggil dokter, Kangin oppa menangis, dan appa terlihat tenang walaupun aku bisa melihat ia sangat panik. aku juga tidak mengerti apa yang terjadi padaku, kenapa aku bisa melihat tubuhku sendiri. tapi semuanya terlihat semakin jelas saat tiba-tiba dokter masuk, lalu memompa dadaku mengusahakan agar jantungku kembali berdetak, tapi usahanya gagal. ia menggelengkan kepala menandakan aku sudah pergi.

aku melihat eoma memeluk tubuhku dan mendengar tangis eoma semakin kencang, eoma terus-menerus meminta maaf, appa memeluk eoma, Kangin oppa menonjok tembok sambil menangis, sementara Henry oppa. dia berdiri di samping tubuhku yang sudah tidak bergerak, sambil menangis sayup-sayup aku mendengar ia berkata, “sudah lama aku memperhatikanmu, gadis kesepian yang selalu datang ke taman untuk melamun atau melihat-lihat keadaan taman. sudah lama ku ingin berkenalan denganmu, dan sudah lama aku ingin bilang kalau aku sayang padamu. seminggu aku menyiapkan semuanya, cara pernyataan cintaku padamu, apa yang akan kulakukan kalau kau menolak dan apa yang akan kita lakukan kalau kau menerimaku. tapi saat semuanya terasa sempurna, kenapa kau malah meninggalkanku.”

dadaku terasa sesak, aku tau aku sudah mati, tapi entah kenapa rasa sesaknya masih terasa, entah karena aku belum benar-benar meniggal atau karena ucapan Henry oppa. dia bilang dia menyayangiku, dan aku.. sebenarnya aku juga menyayanginya, tapi kenapa semua ini terjadi padaku. semua orang pasti mati, tapi tidak secepat ini, tidak disaat aku ingin bilang pada Henry oppa kalau aku juga meyukainya, kalau aku ingin menjadi kekasihnya. semua ini terasa tidak adil bagiku, tiba-tiba saja semuanya terasa menjauh. tubuhku yang dipeluk eoma, eoma, appa, Kangin oppa, Henry oppa, dan kamar tempat aku dirawat semuanya semakin menjauh, lalu aku sadar kalau aku mulai pergi meninggalkan dunia ini menuju duniaku yang baru.

by: woon

aku menatap foto pria chubby nan imut itu. dengan helaan napas yang panjang dan berat ada sejuta kekaguman yang tercipta untuk pria itu. pria yang entah sampai kapan mungkin tidak akan pernah menjadi milikku. menjadi milikku? bertemu dengannya saja aku pasti sudah jungkir balik, guling-guling, kayak orang gila, apalagi kalu dia menjadi milikku, mungkin aku akan langsung pingsan ditempat dan harus segera dilarikan kerumah sakit untuk mendapatkan pertolongan pertama. saat aku sedang asyik melihat foto itu, tiba-tiba ada yang mendorong kepalaku dari samping kiri, dengan perasaan kesal aku menoleh dan mendapati eonni ku berdiri di sampingku.

“jaemi!! apa yang kau lakukan?” tanya eonni dengan nada kesal.

“dia tampan eonni” kataku sambil kembali melihat foto henry yang terpampang dengan ukuran big size.

“aku tau dia tampan tapi tidak bisakah kau memberikan uangnya kepada penjaga tiket ini? dia sudah meminta uangnya sebanyak ratusan kali!” tanya eonni terdengar sedikit gusar.

aku menatap seorang perempuan yang menjaga tiket yang berada di depanku, mukanya terlihat agak kesal, aku melemparkan cengiran terbaikku lalu memberikan uang yang sedari tadi kupegang. “mian eon, ini uangnya. kamsahabnida.” kataku dan langsung menarik tangan eonni untuk menjauh dari antrian.

aku dan eonni baru saja membeli tiket konser SJ-M yang berlangsung di china. aku dan eonni memang memaksakan diri pergi kesini hanya untuk melihat para idola kami beraksi diatas panggung. kemarin malam aku dan eonni berangkat dari korea dengan pesawat malam, dan paginya disinilah kita mengantri untuk membeli tiket konser. eonni sangat tergila-gila dengan hangeng dan siwon, yah walaupun hangeng sudah tidak ada tapi eonni tetap mencintai dan menjadi fans setia oppa. sementara aku, aku sangat mengidolakan henry, satu-satunya pria chubby yang ada di SJ-M, ommoooo….

***

keesokannya aku terbangun dengan semangat dan perasaan senang yang teramat sangat. aku tidak pernah merasakan sesemangat dan sesenang itu sampai hari ini. today is a big day, ommoooo aku akan melihat idolaku manggung, aku akan melihatnya menyanyi, menari, seperti yang biasanya hanya bisa kulihat di televisi atau di youtube. aku melihat eonni keluar dari kamar mandi dengan jubah mandi dan handuk yang melilit di kepalanya.

“kenapa kau bengong? cepat mandi, bisa-bisa kita terlambat datang ke konser.” perintah eonni. dengan semangat aku langsung turun dari tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi. dan saking semangatnya aku benar-benar tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mandi, mungkin aku hanya membutuhkan waktu 5 menit untuk mandi, yah itu menurut perkiraanku.

keluar dari kamar mandi aku langsung mencari baju terbaik dari dalam koperku, dan bisa dibilang sekarang aku mengeluarkan semua isi koper dan menumpahkannya di atas kasur. aku menatap baju-baju itu sesaat, dan berpikir bahwa aku benar-benar bodoh karena tidak membawa baju yang benar-benar bagus. karena putus asa akhirnya pilihanku jatuh pada celana jeans hitam, tanktop putih dan jaket yang berwarna senada dengan tanktop.

“eonni, bagaimana menurutmu?” aku berdiri disamping eonni yang sedang mematut diri di depan kaca sambil memakai make up.

eonni menatapku dari kaca, “yah.. bagus.. tomboi seperti biasanya.” kata eonni sambil kembali melanjutkan merias diri. eonni lebih terlihat ingin mendatangi sebuah opera ketimbang ingin mendatangi sebuah konser, ia memakai sebuah baju terusan bertali satu yang roknya hanya sampai seperempat pahanya, di pinggulnya ia memakai sebuah ikat pinggang yang menunjukkan lekuk tubuhnya, ia juga memakai beberapa gelang, dan rambutnya dibiarkan tergerai, ia juga memakai high heels setinggi 10 cm yang membuat kakinya tampak jenjang.

“hey kalau aku feminim sepertimu, kau pasti akan kalah cantik.” aku mengambil sisir dari dalam koperku dan mulai menyisir tanpa melihat ke kaca. aku memang tomboi berbeda dengan eonni yang feminim, lagipula kalau aku dan eonni sama-sama feminim, bisa-bisa eoma dan appa akan bingung membedakan kami berdua, maklum saja kami adalah kembar identik. eonni melirik sekilas kearahku, dan menatapku seolah-olah aku orang bodoh yang mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal.

setelah selesai menyisir rambutku, aku langsung memakai sepatuku dan mengambil dompet serta handphoneku, dan eonni.. dia masih sibuk dengan make up nya. “ah chinca..” umpatku, “ppalliyo eonni!!” kataku gusar, aku memakai tudung kepala jaketku lalu melangkah keluar kamar.

“ne.. jamkanman.” seru eonni, ia pun membereskan alat make up nya, mengambil tasnya yang berada diatas kasur lalu langsung menyusulku yang terlebih dulu sudah berada diluar kamar.

***

tempat itu sangat ramai, benar-benar ramai, aku dan eonni sampai kesulitan mencari dimana letak pintu masuknya. dan aku agak merasa kasihan melihat eonni, ia seperti kesulitan berjalan diantara ratusan orang itu dengan high heels setinggi itu. eonni berpegangan padaku, untuk membuatnya agar tidak terpisah denganku dan sekaligus agar tidak terjatuh karena desakan. aku memang tomboi, dan karena tomboi aku yang jadinya lebih sering melindungi eonni. dengan putus asa aku berusaha menerobos kerumunan orang itu untuk mencari pintu masuk, sampai akhirnya aku melihat sebuah pintu yang letaknya tidak begitu jauh dariku dan eonni. aku langsung menarik tangan eonni dan mengajaknya kesana, kupikir itu pintu masuk utama sampai akhirnya aku berada di dalam dan menyadari kalau aku membuat sebuah kesalahan.

dibalik pintu itu ada koridor panjang yang tidak terlalu disesaki oleh orang-orang, hanya ada beberapa orang yang terlihat sibuk sedang menyiapkan sesuatu, ada yang memegang HT sambil berbicara bahasa china, ada yang berlarian sambil membawa beberapa peralatan, dll. “jaemi, kita ada dimana?” tanya eonni yang juga bingung sama sepertiku.

“sepertinya ini backstage eon.” kataku pelan. aku melihat banyak orang keluar masuk dari satu ruangan ke ruangan lain.

“hey tolong bawain ini ke ruangan SJ-M ya kamsahabnida.” tiba-tiba seorang wanita korea memberiku setumpuk box sepatu dan memberi eonni setumpuk baju, sementara wanita itu berlari sambil berbicara di HT.

aku menatap eonni dengan tatapan bingung, “ruang SJ-M.” aku mengulang kata-kata wanita itu, eonni yang juga bingung hanya bisa mengangguk. walaupun masih bingung aku dan eonni memutuskan untuk melaksanakan apa yang diminta oleh wanita itu. agak susah untuk menemukan ruangan SJ-M dengan semua keribetan yang ada disini, tapi pada akhirnya aku dan eonni berhasil menemukannya juga.

***

ommooo.. aku tidak percaya ini semua, disinilah aku dan eonni, diruang ganti SJ-M. aku melihat siwon, henry, zhou mi, ryeowook, donghae, kyuhyun, eunhyuk, dan sungmin sedang di rias oleh penata rias mereka. “sillyehabnida.” seru seorang laki-laki yang berdiri disebelah eonni. “apa itu sepatu dan baju para member?” tanya laki-laki itu lagi.

“ah ne.. oppa.” aku mendengar eonni mengiyakan. aku terlalu serius menatap henry oppa sampai-sampai tidak bisa berkata apa-apa.

“kalian bisa meletakkannya disana, setelah mereka di make up kalian bisa memilihkan baju yang cocok untuk para member, kalian bisa duduk disana.” laki-laki itu menunjuk sebuah sofa yang berada di sudut, sebelum iya berlalu keluar ruangan.

aku dan eonni memutuskan untuk duduk sambil memperhatikan para oppa di rias.

***

“untung ada eonni, jadi kita masih bisa milihin baju yang cocok buat oppa.” kataku saat aku dan eonni menonton SJ-M beraksi dari backstage. yah pada akhirnya tiket yang kami beli tidak berguna, karena mereka pikir kami adalah crew jadi kami diizinkan menonton dari backstage.

“ne.. ada gunanya juga kan punya eonni feminim. aku senang sekali hari ini.” kata eonni yang matanya sama sekali tidak lepas dari siwon oppa.

“aku juga eonni.” aku menyetujui perkataan eonni. henry oppa terlihat sangat keren dan aku berjanji akan minta foto dengannya setelah semua ini selesai.

***

“oppa, mianhaeyo.” aku mengambil baju henry oppa saat ia selesai berganti pakaian.

“ne.. wae?” tanyanya ramah.

“boleh aku minta foto dengan oppa?” tanyaku malu-malu sambil menunduk, tidak berani menatap wajah henry oppa.

aku mendengar henry oppa tertawa, “ne.. tentu saja.. mian apa kau orang baru di crew kami?” tanya henry oppa dengan keramahan yang sama seperti tadi.

aku memberanikan diri mengangkat wajahku yang sebagian wajahku tertutup tudung kepala jaketku, “anya oppa.. aku.. aku..” aku mentok dan tidak berhasil menemukan jawaban yang tepat.

“ah.. tidak apa-apa, cheoneun henry nimida.” henry oppa mengangkat tangannya dan mengulurkan tangannya padaku. jantungku berdegup kencang tidak percaya bisa berkenalan langsung dengan henry oppa. aku menatap tangan henry oppa yang kekar, pelan tapi pasti aku bisa merasakan rona pipiku yang mulai memerah. “mianhae.” henry oppa membuka tudung kepalaku, “nah begini lebih cantik” katanya.

aku menatap henry oppa lalu tersenyum. “mianhae oppa, bukannya aku tidak mau menjabat tangan oppa, tapi..” aku menatap pakaian henry oppa yang sedang kupegang, “aku tidak mungkin menjatuhkan pakaian ini untuk berjabat tangan denganmu kan.” lanjutku.

henry oppa kembali tertawa, tawa renyah yang kusukai, aku tidak dapat mempercayai semua ini, berada di backstage dan bertemu dengan member SJ-M secara langsung, berkenalan dengan henry oppa, dan mendengar tawanya, ommooo ini seperti mimpi. “yah kau tidak mungkin menjatuhkannya, kalau begitu kau bilang saja siapa namamu, kau tidak perlu menjabat tanganku.” aku melihat henry oppa menurunkan tangannya.

“ngng.. cheoneun jaemi nimida oppa..” kataku sambil agak membungkuk.

“jaemi?” tanya henry oppa.

“ne oppa.” kataku.

“jaemi, kau memang jaemi.” henry oppa memainkan namaku, aku mengerti maksudnya, maksudnya pasti jaemi kau memang lucu, karena arti nama jaemi kan lucu.

“ah kamsahabnida oppa.” seruku sambil tersipu malu.

“kau mau kubantu?” tanya henry oppa sambil mengambil bajunya yang sedang kupegang.

“andwae oppa.. tidak apa-apa.” aku memeluk baju henry oppa dengan erat, masih tercium bau parfumnya dari baju itu.

“chinca? kalau begitu sebaiknya kau harus segera mengembalikan baju itu karena kulihat mereka sedang menunggunya.” henry oppa mengangguk kearah belakangku, sambil memberikan senyuman terakhir aku pun berbalik dan mengembalikan baju itu. setelah mengembalikan baju, henry oppa menepati janjinya untuk berfoto denganku.

***

semalam aku dan eonni tidak ada habis-habisnya membicarakan soal pertemuan kita dengan member SJ-M. eonni berhasil berfoto dengan semua member SJ-M, sementara aku berhasil mendapatkan foto serta nomer handphone henry oppa selama di china dan di korea. dan sekarang aku sedang berjalan-jalan di taman dekat hotel tempat aku menginap. eonni tidak ikut denganku karena dia sedang spa di hotel. aku sedang menikmati pemandangan saat tiba-tiba handphoneku berbunyi.

“annyeonghasaeyo.” sapaku.

“annyeong jaemi. apa kau sibuk?” terdengar suara henry oppa, aku langsung terkesiap dan jantungku langsung berdegup kencang, tidak percaya kalau di telpon olehnya.

“tidak oppa.. wae?” tanyaku.

“kau ada dimana? biar kujemput. rencananya aku dan member SJ-M lain akan latihan dance dan aku ingin kau ikut, sekalian kau kukenalkan dengan yang lain.” kata henry oppa ramah, setelah memberitahu aku sedang berada dimana dan mengatur tempat janjian, aku langsung berlari menuju tempat tersebut. sesampainya aku disana ternyata sudah ada kyuhyun oppa dan henry oppa yang menunggu dengan sebuah mobil. setelah mengenalkanku pada kyunyun oppa, henry oppa langsung mengajak kami pergi.

***

eunhyuk, donghae, dan henry oppa menari dengan sangat luwes saat intro yang berada ditengah lagu ‘too perfect’ mereka memang sangat perfect. tadi sesampainya disini, henry oppa langsung mengenalkanku pada para member yang lain. dan aku senang karena berkenalan dengan mereka, selain itu juga berarti temanku bertambah.

“apa kau bosan?” tanya eunhyuk oppa saat mereka selesai latihan, eunhyuk oppa duduk disebelahku, dan member yang lain langsung duduk mengitariku.

“anyo oppa.. aku baik-baik saja, malah bisa dibilang aku senang karena bisa melihat kalian latihan. kalian keren.” pujiku.

“kau bisa saja.” seru siwon oppa dengan gaya khasnya.

kami mengobrol sambil bercanda dan tanpa kami sadari perut kami keroncongan minta diisi. zhou mi oppa langsung mengajak kami makan di sebuah restoran china yang makanan dan tempatnya enak. disana kami mengobrol sambil makan dan hubunganku dan para member SJ-M semakin dekat. dan tibalah waktunya bagi kami untuk kembali ke hotel.

“kalian kembalilah duluan, aku akan mengantar jaemi dulu.” kata henry oppa sambil menggandeng tanganku. setelah pisah dengan member yang lain, henry oppa membawaku ke mobil yang sama saat ia dan kyuhyun oppa menjemputku. henry oppa membukakanku pintu, saat aku mau masuk ke dalam mobil, kepalaku terantuk pinggir atap mobil.

“awwwwww!!!” teriakku sambil mengelus-elus kepala. aku membuka mata dan melihat ke sekeliling. hey ini kamarku, dan aku masih di tempat tidur, dan yang tadi beradu dengan kepalaku bukan atap mobil henry oppa melainkan tembok. “ah chinca jadi semua itu cuma mimpi!!” teriakku sambil melempar bantal ke lantai.

“hey aku sedang berusaha tidur, kenapa sih kau malah teriak-teriak mengganggu tidurku saja!” eonni yang mukanya dilapisi masker langsung memarahiku yang membuat maskernya retak. “ah chinca lihat apa yang kau lakukan, maskerku jadi retak!” omel eonni sambil jalan menuju kamar mandi.

sementara rasa kesalku berubah menjadi rasa bahagia, bahagia karena mimpiku berhasil membodohi diriku sendiri, bahagia karena kebodohanku. aku tersenyum, mengambil bantal dan handphoneku. aku melihat ada sebuah sms yang masuk ke handphoneku, dan tulisannya.

mian noona, ini nomer handphoneku, besok aku dan member SJ-M yang lain akan latihan di tempat yang sama. henry nimida.

hey apa aku masih bermimpi? kataku dalam hati, dan aku mencoba mencubit tanganku sendiri, dan rasanya sakit. jadi.. apa kali ini benar-benar henry oppa yang mengirim sms padaku? dan apa kali ini aku bisa berkenalan dan bahkan mengobrol dengan seperti yang ada di mimpiku? semoga saja.. aku membalas sms tersebut, lalu memutuskan untuk kembali tidur.

mian oppa.. sepertinya ini bukan nomer handphone noona yang oppa maksud

itulah isi smsku pada orang yang menyebut dirinya henry^^


fyi

we need four new admin for our wordpress now.. and the requirements is:
- can use wordpress and english language,
- not admin from another account,
- can share the new info, video, or picture from kpop,
- love kpop so much,
- can share the info every day.
simple requirements, if you interesting you can email us to yourkoreanbias@gmail.com
we waiting for you chingu.. kamsahamnida^^

Follow Us On Twitter